Pertemuan demi pertemuan adat digelar untuk merumuskan piagam perdamaian. Salah satu momen krusial adalah penandatanganan kesepakatan damai di Tumbang Anoi dan berbagai kota di Kalimantan Tengah.
Lebih dari 100.000 warga keturunan Madura harus dievakuasi menggunakan kapal-kapal TNI Angkatan Laut dan Pelni kembali ke Pulau Madura dan Jawa demi keselamatan mereka. Sampit dan beberapa kota di Kalimantan Tengah sempat lumpuh total. Proses Resolusi, Rekonsiliasi, dan Perdamaian
Selain transmigran resmi yang difasilitasi pemerintah, banyak warga Madura datang sebagai migran swakarsa (mandiri). Mereka tertarik oleh peluang ekonomi di sektor industri perkayuan, perkebunan kelapa sawit, dan perdagangan yang sedang berkembang pesat di Kalimantan. Faktor-Faktor Pemicu Konflik (Akar Permasalahan) perang dayak dan madura
Dalam upaya meredam konflik, para tokoh adat merujuk kembali pada semangat , yaitu perjanjian historis antarsuku Dayak untuk menghentikan tradisi perang suku ( mengayau ). Semangat perdamaian ini digunakan sebagai landasan moral untuk menghentikan kekerasan. Deklarasi Damai dan Ritual Adat
Suku Dayak memiliki hukum adat yang sangat dijunjung tinggi mengenai penghormatan terhadap tanah dan sesama manusia. Di sisi lain, sebagian pendatang Madura membawa tradisi carok —sebuah metode penyelesaian sengketa atau pembelaan harga diri menggunakan senjata tajam (celurit)—yang sering kali tidak selaras dengan koridor hukum adat setempat. Sampit dan beberapa kota di Kalimantan Tengah sempat
This public link is valid for 7 days and shares a thread, including any personal information you added. This link or copies made by others cannot be deleted. If you share with third parties, their policies apply. Can’t copy the link right now. Try again later.
Selama beberapa minggu, Kota Sampit dan sekitarnya lumpuh total. Terjadi aksi pembakaran rumah, penjarahan, dan pembunuhan massal. Skala kekerasan yang sangat tinggi membuat aparat keamanan setempat sempat kewalahan mengendalikan situasi. Selama beberapa minggu
Pemerintah pusat akhirnya melakukan intervensi. Presiden Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri mengunjungi Sampit untuk meninjau kamp pengungsian.
Diperkirakan setidaknya 300 hingga 500 orang meninggal dunia.